Renungan Kisah Uang Rp.1000 dan Rp.100.000


Sama-sama terbuat dari kertas dan sama-sama diedarkan oleh Bank Indonesia.
Pada saat bersamaan mereka keluar dari Bank dan beredar masyarakat.
Lima bulan kemudian mereka bertemu kembali, kemudian kedua uang tersebut melakukan sebuah percakapan.

Rp.100.000 bertanya kepada Rp.1000 "Kenapa kamu begitu lusuk, kotor, dan bau amis?"

Dijawablah olehnya "Karena aku begitu keluar ditangan kalangan orang bawahan, mulai dari tukang becak, pedagang sayur, dan pengemis.

Kemudian Rp.1000 bertanya balik kepada Rp.100.000 "Kenapa kamu masih terlihat baru, rapi, dan masih bersih?"

Dijawabnya "Karena begitu keluar aku di sambut dengan perempuan cantik, dan beredarnya pun di restaurant mahal, di mall, di hotel-hotel berbintang, serta keberadaanku lebih dijaga sehingga membuatku jarang keluar dari dompet."

Lalu Rp.1000 bertanya kembali "Pernahkah kamu mampir ketempat ibadah?"

Rp.100.000 menjawab "Belum pernah"

Kemudian Rp.1000 berkata "Ketahuilah, walaupun aku begini adanya, tetapi setiap hari Jum'at aku selalu mampi di masjid, setiap minggu ke gereja, wiara, pura, dan ditangan anak yatim. Aku sangat bersyukur kepada tuhan karena aku tidak di pandang dari nilai tapi di pandang dari manfaatnya"

Kemudian Rp.100.000 menangis karena yang selama ini dia merasa besar, sehat, dan bagus tetapi tidak memiliki banyak manfaat selama ini



Jadi ketahuilah bukan seberapa besar penghasilan kita, tetapi seberapa manfaatnya penghasilan kita.
Karena kekayaan bukanlah untuk kesombongan.

Semoga kita tergolong dalam orang orang yang mensyukuri nikmat dan bermanfaat bagi alam semesta, serta di jauhkan dari kesombongan.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Renungan Kisah Uang Rp.1000 dan Rp.100.000"

Posting Komentar